Jumat, 16 Maret 2018

Jawa Barat Dipimpin Gubernur Aher “Absen” di Hari Santri

Bandung, Ansor Tegal?



Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2016 disambut gegap-gempita masyarakat di berbagai daerah Jawa Barat. Beberapa kepala daerah Kota dan kabupaten juga menyambutnya dengan menghadiri puncak peringatan pada Sabtu (22/10). Namun, justru Pemerintahan Provinsi Jawa Barat tidak.?

Sepertinya Jabar tidak atau belum menunjukan respon yang cukup berarti. Tidak ada kegiatan yang digelar pemerintah provinsi, ataupun sekadar hadir ditengah-tengah acara peringatan. Gubernur Ahmad Heryawan hanya mengucapkannya melalui media sosial, di akun halaman facebook dan instagram per tanggal 22 Oktober 2016.

Jawa Barat Dipimpin Gubernur Aher “Absen” di Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jawa Barat Dipimpin Gubernur Aher “Absen” di Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jawa Barat Dipimpin Gubernur Aher “Absen” di Hari Santri

“Selamat Hari Santri Nasional. Semangat Santri: "Semangat kebangsaan, cinta Tanah Air, rela berkorban untuk bangsa dan negara," tulis gubernur yang disapa Aher tersebut, mengutip pernyataan Presiden Jokowi dalam Deklarasi Hari Santri Nasional Tahun 2015.

Menurut dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung Dudang Ghazali berpendapat, seharusnya Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak seperti seperti itu. Sebagai provinsi yang dipimpin gubernur berlatar belakang santri dan juga representasi parpol Islam, menurut Dosen Fakultas Syariah ini, dukungan pemerintah Jabar seharusnya berada di depan.

“Beliau kan berasal dari parpol Islam. Juga sepengetahuan kita, beliau juga latar belakangnya santri. Wajar jika masyarakat punya harapan lebih. Bahkan Presiden Jokowi juga menaruh perhatian yang cukup besar dengan hadir dalam deklarasi di Jakarta tahun 2015 dan peringatan tahun ini di Banten,” kata Dudang.

Ansor Tegal

Menurutnya, dukungan pemerintah itu penting untuk lebih mengaktualkan makna Resolusi Jihad NU Tahun 1945 yang dikumandangkan Hadlratusyekh KH Hasyim Asy’ari dalam konteks kekinian, termasuk dalam tata kelola pemerintahan. “Masyarakat kita membutuhkan spirit resolusi jihad termasuk dalam pengelolaan pemerintahan saat ini,” tandasnya.

Dudang pun membandingkan dengan dukungan pemerintah daerah lain yang sejak tahun 2015 sudah mengalokasikan anggaran untuk peringatan hari santri.

“Kemarin, waktu pelepasan rombongan Kirab Resolusi Jihad NU di kantor PWNU Jawa Barat menginformasikan beberapa daerah, seperta Jatim dan Banten itu sudah alokasikan. Bahkan di Jatim, seluruh Kota dan Kabupaten diintruksikan oleh pemerintah provinsi. Karena memang legitimasinya jelas sudah ditetapkan sebagai nomeklatur negara melalui Kepres no 22 Tahun 2015,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Jawa Barat Ineu Purwadewi Sundari ketika diminta tanggapan terkait kemungkinan adanya alokasi anggaran ? khusus untuk peringatan Hari Santri, akan menerimanya sebagai bentuk aspirasi masyarakat sepanjang sesuai dengan peraturan yang ada.

Ansor Tegal

“Sebagai lembaga perwakilan rakyat semua masukan, saran dan aspirasi tentunya menjadi bagian yang akan kami perjuangkan sesuai dengan peraturan, perundang-undangan yang berlaku. Saya akan lihat regulasi dan aturan serta perencanaan terkait hal tersebut,” ucapnya.

Secara pribadi dan kelembagaan, politisi dari Fraksi PDIP ini, mengucapkan selamat Hari Santri Nasional tahun 2016. “Semoga semangat perjuangan, pengabdian, kebersamaan, kerendahanhati, ketekunan dan ukhuwah senantiasa mengawal kita semua dalam membangun karakter kehidupan bangsa”, pungkasnya. (edi rusyandi/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ansor Tegal Sunnah, Habib, Kyai Ansor Tegal

Senin, 12 Maret 2018

Kiai Nawawi Kisahkan Karomah Syekh Nawawi

Subang, Ansor Tegal - Syekh Nawawi Al-Bantani dikenal sebagai ulama Nusantara yang diakui dunia karena karya-karyanya serta keluasan ilmu di bidang fiqh, tafsir, aqidah, tasawuf dan ilmu keislaman lainnya. Karena kealiman dan keluhuran akhlaknya, Allah SWT memberikan karomah kepadanya.

Karomah Syekh Nawawi tersebut disampaikan Mustasyar PCNU Kabupaten Subang KH Nawawi saat berkunjung ke Pesantren Al-Mukhtariyyah, Kalijati, Subang, Jawa Barat pada Ahad (10/1).

Kiai Nawawi Kisahkan Karomah Syekh Nawawi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Nawawi Kisahkan Karomah Syekh Nawawi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Nawawi Kisahkan Karomah Syekh Nawawi

"Suatu hari ketika dalam perjalanan, Syekh Nawawi mampir istirahat di sebuah tempat. Kemudian dia adzan karena akan shalat. Setelah adzan, ternyata tidak ada orang yang datang, akhirnya ia qamat lalu shalat sendirian," ungkapnya di depan puluhan santri.

Usai shalat, lanjut dia, Syekh Nawawi kembali melanjutkan perjalanan, tapi ketika menengok ke belakang, ternyata ada seekor ular raksasa dan mulutnya sedang menganga. "Akhirnya diketahui ternyata tadi Syekh Nawawi shalat di dalam mulut ular yang sangat besar itu," ujarnya.

Ansor Tegal

Ia menambahkan, karomah Syekh Nawawi yang lain adalah ketika makamnya di Mala, Arab Saudi, akan dibongkar untuk kepentingan pelebaran jalan, alat berat yang digunakan untuk membongkar makamnya tersebut malah rusak.

Ansor Tegal

Ketika dipaksa dibongkar, lanjut kiai yang sudah 5 kali ke Makkah ini, para pekerja kaget karena ternyata di dalam makam tersebut ada orang yang sedang sujud. Akhirnya makam dia tidak jadi dibongkar, dan dibuatlah jalan layang.

Mantan Rais PCNU Subang itu menceritakan, perpustakaan sebuah kampus di Mesir pernah terbakar. Kitab-kitab yang ada di situ hangus, kecuali satu, yaitu Marah Labid atau Tafsir Munir karya Syekh Nawawi Al-Bantani.

Menurut dia, karomah tersebut diberikan Allah SWT karena kealiman dan kesaolihan Syekh Nawawi. Orang yang alim dan saleh akan disayangi Allah SWT.

Kiai Nawawi mendorong kepada para santri agar menjadi anak yang alim dan saleh karena alim tanpa saleh atau pun sebaliknya, tidak cukup, keduanya harus menjadi sebuah kesatuan. (Aiz Luthfi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ansor Tegal Nahdlatul Ulama, Lomba, Santri Ansor Tegal

Minggu, 11 Maret 2018

Multi Etnis di Indonesia, Anugerah Tiada Tara

Jakarta, Ansor Tegal. Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) bekerjasama dengan Forum Bagi Bangsa (FBB) mengadakan Seminar Kebangsaan bagi Siswa-siswi di SMAN 70, Bulungan, Jakarta Selatan, Rabu, (15/11).

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB), Abdul Ghopur yang juga intelektual muda Nahdlatul Ulama, mengatakan kenusantaraan atau keindonesiaan yang multi etnis, multi budaya dan multi bahasa serta beragam suku bangsa adalah anugerah luar biasa yang tiada tara. 

Multi Etnis di Indonesia, Anugerah Tiada Tara (Sumber Gambar : Nu Online)
Multi Etnis di Indonesia, Anugerah Tiada Tara (Sumber Gambar : Nu Online)

Multi Etnis di Indonesia, Anugerah Tiada Tara

“Tidak ada bangsa atau negeri sekaya ini dan seindah serta senyaman Indonesia. Belum lagi alamnya yang ramah, iklimnya yang sedang-sedang saja, tidak ada musim yang ekstrim, terlalu panas tidak, terlalu dingin pun tidak. Ditambah dengan keanekaragaman hayati dan hewani-flora dan fauna yang sangat kaya tak terbanding,” kata Ghopur melalui materi Cinta Tanah Air Sebagian dari Iman.

Ghopur menyebutkan hal itu sebagaimana disebutkan dalam penggalan Al-Qur’an Surat An Naml ayat 40, "Haadza min fadli rabbi liyabluwani a-asykuru am akfur, artinya: ini anugerah dari Tuhan untuk menguji kita untuk disyukuri atau diingkari).” 

Ghopur prihatin atas situasi bangsa Indonesia sekarang, 

“Ada sebagian kelompok masyarakat yang kurang mensyukuri karunia Tuhan ini dengan dalih atau atas nama kemurnian suatu paham agama tertentu dan atas nama kemodernan, sehingga, prinsip-prinsip kebangsaan, kenegaraan serta kewarganegaraan semakin hari semakin jauh. Bahkan jauh lebih menjauh setelah dikobarkannya reformasi Mei 98,” sesalnya.

Ansor Tegal

Menurutnya ada banyak jawaban atas persoalan tersebut. Tetapi,yang terpenting adalah karena; Pertama, problem Indonesia sesungguhnya adalah keberlangsungan manajemen negara pasca kolonial yang tak mampu menegakkan kedaulatan hukum, memberikan keamanan dan keadilan bagi warganya.

Di dalam ketiadaan keadilan, keamanan dan perlindungan hukum bagi individu untuk mengembangkan dirinya, orang lebih nyaman berlindung di balik  warga-tribus (tribalisme, premanisme, koncoisme dan sektarianisme) ketimbang warga-negara. 

Ansor Tegal

Persoalan ekonomi-politik yang bersumber dari manajemen negara yang korup menyisakan kelangkaan dan ketimpangan alokasi sumberdaya di rumahtangga kebangsaan. Jika aparatur negara hanya sibuk mengamankan kekuasaan dan dapurnya sendiri, maka individu akan segera berpaling ke sumber-sumber tribus sebagai upaya menemukan rasa aman. Di sini persoalan ekonomi-politik yang objektif disublimasikan ke dalam bentrokan identitias yang subjektif. 

“Kedua, kita belum siap menerima keragaman. Padahal, keragaman bangsa bisa menjadi kekayaan jika negara mampu menjalankan fungsinya sebagai, apa yang disebut Mohammad Hatta, (panitia kesejahteraan rakyat),” katanya.

Lebih lanjut, Ghopur menukil isi dari teks Piagam Deklarasi tentang Hubungan Pancasila dengan Islam sebagai hasil Munas NU, Situbondo, 21 Desember 1983, Meski Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Kesatuan Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dipergunakan untuk menggantikan agama. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Udang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila-sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.

“Islam adalah akidah dan syariah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah (hablumminallah) dan hubungan antar manusia (hablumminannas),” tambahnya.

Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan (pengejawantahan) dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syariat agamanya.

“Sebagai konsekuensi dari sikap ini, segenap anak bangsa yang masih mencintai dan menginginkan utuhnya negeri ini, berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak,” imbuhnya lagi.   

“Intinya, No Ekstrim Kanan, No Ekstrim Kiri! Jadilah Ummat yang Tengah-tengah (ummatan wasahan) yang seimbang, bersatulah Orang Indonesia (Oi)” tandasnya. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ansor Tegal Pemurnian Aqidah, Sunnah, Kajian Islam Ansor Tegal

PBNU Canangkan Gerakan Ekonomi Berbasis Masjid dan Pesantren

Jakarta, Ansor Tegal. Pengurus harian Syuriyah PBNU menggelar pertemuan bersama pengurus baru Lembaga Takmir Masjid (LTM) dan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) di Jakarta, Kamis (10/9) siang. Mereka sepakat mengambil pemberdayaan ekonomis sebagai fokus program kerja ke depan dua lembaga strategis di NU itu.

PBNU Canangkan Gerakan Ekonomi Berbasis Masjid dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Canangkan Gerakan Ekonomi Berbasis Masjid dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Canangkan Gerakan Ekonomi Berbasis Masjid dan Pesantren

Pada rapat yang diikuti para katib Syuriyah PBNU, Rais Aam mengarahkan pengurus inti dua lembaga ini untuk fokus pada penguatan ekonomi berbasis garapan masjid dan pesantren.

“Kita ingin ekonomi ini menggerakkan NU, masjid juga pesantren, dan juga untuk kesejahteraan nahdliyin itu sendiri,” kata Silahuddin, salah seorang staf Rais Aam usai rapat internal di Jakarta, Kamis (10/9) sore.

Ansor Tegal

Menurut Silahuddin, program RMI dan LTM PBNU yang sudah berjalan pada periode kepengurusan sebelumnya tetap berlanjut. Syuriyah PBNU mengapresiasi gerakan deradikalisasi RMI dan program muharrik masjid LTM PBNU yang sudah berjalan.

Ansor Tegal

“Kini kita masukkan pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren dan masjid seiring tantangan ekonomi dunia,” kata Silah.

Rais Aam dan pengurus harian Syuriyah PBNU pada pekan depan akan mengadakan rapat dengan lembaga lain di PBNU. “Minggu depan kemungkinan dengan Lazisnu dan lembaga bahtsul masail,” tandas Silah. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ansor Tegal Habib, Amalan, Ubudiyah Ansor Tegal

Sabtu, 10 Maret 2018

Dokumen NU Harus Diselamatkan

Jakarta, Ansor Tegal
Dokumen dan arsip yang terkait dengan Nahdlatul Ulama, baik sejarah, tokoh maupun pemikirannya harus diselamatkan dan di jadikan sumber informasi rujukan agar semua orang dapat mengaksesnya.

"Hal ini perlu dilakukan, karena kesadaran melakukan manajemen kearsipan di NU masih rendah, sehingga harus ada upaya baik individual maupun kolektif untuk menyelamatkan aset-aset NU yang tak ternilai itu," ujar Asep Mukhtar Muhtadi, Pegawai Arsip Nasional RI dalam diskusi Manajeman Kearsipan di gedung PBNU, Selasa (14/6).

Menurutnya, hal ini perlu dilakukan karena Nahdlatul Ulama memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan republik ini, sehingga segala yang telah dilakukannya memiliki nilai sejarah yang tinggi dan ini harus diketahui oleh generasi yang akan datang."Karena ilmu pengetahuan sepenuhnya dapat ditelusuri dari sejarah, jadi kalau sampai NU tidak memiliki dokumentasi yang baik, dikhawatirkan literatur tentang NU akan sulit dilacak," tuturnya.

Diakui Asep meskipun sebelumnya data-data NU yang sempat tercecer ketika pindah gedung sempat dititipkan ke Arsip Nasional oleh KH. Munasir Ali, syuriah PBNU ketika itu, namun jumlahnya tidak sebanding dengan khazanah kekayaan atmosfir NU  yang beragam. "Dokumen itu masih bisa terselamatkan dengan baik berkat kesadaran individual, namun kedepan perlu lebih institusional dan saya berharap di Ansor Tegal yang melakukan tugas-tugas ini," paparnya dihadapan puluhan peserta dari sekretariat, badan otonom, lajnah, bahkan para peneliti.

Dikatakan Asep yang kader PMII ini amat sayang kalau hal ini diabaikan, karena dulu data-data yang dimiliki NU di Arsip Nasional sempat dibuatkan micro filmnya oleh peneliti dari Australia dan dijadikan aset mereka, sementara kita yang di sini belum menghargainya. "Padahal dengan dimilikinya mikro film tersebut, kita bukan hanya kehilangan dokumentasi penting, tetapi juga kehilangan devisa. Coba kalau mereka melakukan riset, mereka akan mengeluarkan fiskal dan biaya hidup selama tinggal di Indonesia," tutur Asep.

Selama ini yang tekun melakukan penelusuran sejarah NU itu para peneliti dari luar, bahkan banyak naskah-naskah NU yang tersimpan di luar negeri seperti Belanda, Australia, Amerika dan negara-negara yang pernah menjajah Indonesia. Untuk itulah, katanya para akademisi NU, tokoh maupun kader mudanya harus memiliki kesadaran untuk melakukan kerja-kerja pengarsipan, contohnya bisa dimulai dari menulis tokoh-tokoh NU lokal dalam skripsi maupun tulisanya. "Kalau ini secara continyu dilakukan akan terkumpul mozaik NU yang beragam dari berbagai pemikiran," tandasnya.

Acara yang dimulai pukul 1.30 Wib itu dihadiri, Katib Aam, Prof.Dr. Nazarudin Syamsudin, Sekjen PBNU, Dr. Endang Turmudzi, Kepala Sekretariat PBNU, H. Hayat, warawan senior Duta Masyarakat, Baidhawi Adnan, Penulis Buku Islam Paskakolonial, Ahmad Baso, Aktivis FKGMNU, Amsar Dulmanan, Aktivis Lakpesdam, Syatiri dan aktivis muda NU lainnya. (cih)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ansor Tegal PonPes Ansor Tegal

Dokumen NU Harus Diselamatkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dokumen NU Harus Diselamatkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dokumen NU Harus Diselamatkan

Kamis, 08 Maret 2018

Pelajar NU Jombang Fokus Pengaderan Pelajar ke Desa-desa

Jombang, Ansor Tegal

Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang dikukuhkan di aula kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU), Ahad (7/2/2016) pagi. Pelantikan berlangsung meriah didukung dengan sejumlah kegiatan seremonial yang sudah disiapkan panitia penyelenggara.

Pelajar NU Jombang Fokus Pengaderan Pelajar ke Desa-desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Jombang Fokus Pengaderan Pelajar ke Desa-desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Jombang Fokus Pengaderan Pelajar ke Desa-desa

Setelah resmi dilantik, para pengurus PAC IPNU-IPPNU Ngoro diimbau memprioritaskan dalam pembentukan beberapa anak ranting IPNU-IPPNU di berbagai desa setempat yang masih belum tersentuh oleh pengurus PAC IPNU-IPPNU Ngoro sebelumnya.?

Demikian itu disampaikan Ketua Pimpinan Cabang (PC) IPPNU Jombang, Qurrotul Aini saat memberikan sambutan-sambutannya. Ia mengungkapkan bahwa pemerataan pembentukan IPNU-IPPNU dimulai dari anak ranting hingga PAC merupakan salah satu visi dan misi kepengurusannya.?

“Mari saling bahu membahu antar pengurus IPNU-IPPNU untuk melebarkan ke sejumlah daerah di Jombang, hal ini merupakan pekerjaan rumah kita ke depan,” ujarnya, Ahad (7/2).

Ansor Tegal

Selain itu, Aini sapaan akrabnya mengaku bahwa kepengurusan IPNU-IPPNU Jombang di atas tampuk kepemimpinannya memang mendapat mandat sekaligus perintah dari beberapa kiai sesepuh Jombang untuk membentuk anak ranting di setiap ranting. “Kepengurusan tahun ini dapat amanah untuk membentuk tiap ranting ada anak rantingnya,” tuturnya.

Sementara Ketua PAC IPNU Ngoro, Ahmad Khoiruddin berharap kepada segenap pengurus PAC yang baru dilantik itu untuk membangun kerja sama yang baik dan sinergitas antarpengurus untuk melaksanakan program-program yang akan dirumuskan bersama. “Saya sangat berharap kerjasama dari semua pengurus ini untuk menjalankan mandat organisasi ini,” harapnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ansor Tegal

Ansor Tegal Ahlussunnah, Jadwal Kajian, AlaSantri Ansor Tegal

Rabu, 07 Maret 2018

NU Bisa Menjadi Pandangan Umum Lewat Peran Media

Jakarta, Ansor Tegal. Media saat ini sangat mempengaruhi pola pikir masyarakat. Anak sekolah lebih terpengaruh oleh media dibanding dengan gurunya. NU bisa menjadi pandangan umum masyarakat jika kita bisa berperan dalam media, khususnya media online.

NU Bisa Menjadi Pandangan Umum Lewat Peran Media (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Bisa Menjadi Pandangan Umum Lewat Peran Media (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Bisa Menjadi Pandangan Umum Lewat Peran Media

Demikian ditegaskan oleh aktivis sosial, pegiat media sekaligus Pimred Ansor Tegal, Savic Ali yang menjadi narasumber dalam kegiatan Workshop ‘Penguatan Jaringan Anti-Radikalisme di Dunia Maya untuk Ulama Muda’ Selasa (16/6) di Hotel Acacia Jakarta Pusat.

Savic menambahkan, bahwa kiai kharismatik masih sangat dibutuhkan oleh sebagai panutan masyarakat serta kiai-kiai di kampung dengan pemahaman Islam yang membumi. Masyarakat kita butuh patron atau kiai. Tetapi, sekarang dengan media, masyarakat tidak butuh bertanya kepada kiai, cukup di media. “Hal ini jadi tantangan besar bagi generasi NU untuk aktif menyebarkan paham NU di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ansor Tegal

Dia melanjutkan, fungsi media adalah sebagai katalis untuk melakukan perubahan. Media online lebih murah daripada membangun media cetak sehingga dakwah agama bisa dilakukan melalui online. “Asal kita konsisten dan fokus sehingga terkelola dengan baik,” tuturnya.

Tantangan media Islam moderat sangat besar, ucapnya, karena media didominasi oleh situs-situs radikal. Optimisme media moderat lebih banyak sehingga tantangan bisi dihadapai dengan baik. Internet bisa dimanfaat kan untuk membangun pemahman NU di tengah masyarakat.

Ansor Tegal

“Ciri media sosial adalah viral, sangat kuat, jika kita mampu menciptakan konten. Media sosial juga ? mampu mempengaruhi kondisi psikis seseorang. ? Nah, jika setiap Pesantren mampu membuat portal Islam tersendiri mempunyai potensi yang sangat besar. Jika tiap pesantren mengumpulkan ribuan alumninya untuk mengisi portal atau situs dengan menulis berita. Sehingga NU akan mendominasi dunia maya,” tukas Savic. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ansor Tegal Olahraga, Nahdlatul Ulama, Bahtsul Masail Ansor Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ansor Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ansor Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ansor Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock